Tampilkan postingan dengan label Psikologi Perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Perkembangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2018

Masa Dewasa Akhir



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Setiap manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari bayi sampai menjadi tua. Masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.
Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana manusia telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu lansia juga masa dimana seseorang akan mengalami kemunduran dengan sejalannya waktu. Ada beberapa pendapat mengenai usia seseorang dianggap memasuki masa lansia, yaitu ada yang menetapkan pada umur 60 tahun, 65 tahun, dan ada juga yang 70 tahun. Tetapi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa umur 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan seseorang telah mengalami proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang itu telah disebut lansia.
Secara umum orang lanjut usia dalam meniti kehidupannya dapat dikategorikan dalam dua macam sikap. Pertama, masa tua akan diterima dengan wajar melalui kesadaran yang mendalam, sedangkan yang kedua, manusia usia lanjut dalam menyikapi hidupnya cenderung menolak datangnya masa tua, kelompok ini tidak mau menerima realitas yang ada[1].
1.2    Rumusan Masalah

a.       Bagaimana perubahan fisik yang terjadi pada masa lansia?
b.      Bagaimana fungsi kognitif pada masa dewasa akhir (lansia)?
c.       Bagaimana perkembangan psikososial pada masa lansia?

1.3    Tujuan

a.       Mengetahui perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada masa lansia
b.      Memahami fungsi kognitif pada masa dewasa akhir (lansia)
c.       Mengetahui perkembangan yang terjadi pada psikososial pada masa lansia



















BAB II
PEMBAHASAN

2. 1  Masa Dewasa Akhir
Masa lanjut usia merupakan priode penutup dalam rentang kehidupan seseorang. Pada priode ini seseorang telah beranjak lebih jauh dari kehidupan sebelumnya yang lebih menyenangkan atau beranjak dari masa yang penuh dengan manfaat. Ditandai dengan adanya penurunan kapasitas fisik dan psikologis. Seringkali seseorang melihat masalampaunya, umumnya dengan penuh penyesalan, dan cenderung ingin hidup pada masasekarang, mencoba mengabaikan masa depan sebisa mungkin. Karena kondisi kehidupan dan perawatan yang lebih baik, mayoritas pria dan wanita jaman sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda penuaan  mental dan fisik hingga usia 65 tahun sampai awal 70-an. Karena alasan tersebut ada kecendrungan yang meningkat untuk menggunakan usia 65 sebagai usia pensiun.
Menurut Hurlock tahap terakhir dalam rentang kehidupan, seringkali dibagi menjadi: usia lanjut dini (60-70 tahun) dan usia lanjut (70 tahun – akhir kehidupannya). Semakin lanjut usia seseorang dalam priode hidupnya dan telah kehilangan kejayaan masa mudanya. Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi penuaan dan penurunan, yang penururnanya lebih jelas dan lebih dapat diperhatikan dari pada tahap usia baya. Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia, penuaan dihubungkan dengan perubahan degenerati pada kulit, tulang jantung, pembuluh darah, paru-paru,saraf dan jaringan tubuh lainya. Dengan kemampuan regeneratife yang terbatas, merekalebih rentan terhadap berbagai penyakit, sindroma dan kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain. Penurunan ini terutama penurunan yang terjadi pada kemampuan otak.

Ciri-ciri masa lanjut usia adalah sebagai berikut:
1.      Usia lanjut merupakan priode kemunduran
2.      Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
3.      Menua membutuhkan perubahan peran
4.      Usia tua dinilai dengan kriteria yang berbeda
5.      Penyesuaian yang buruk pada masa lansia
6.      Memiliki berbagai stereotype
7.      Keinginan untuk kembali menjadi muda sangat kuat
2. 1. 1  Rangkaian Perubahan Fisik Pada Masa Dewasa Akhir
Usia lanjut membawa penurunan fisik lebih besar dibandingkan dengan priode-priode usia sebelumnya. Kita akan mencatat rentetan perubahan-perubahan dalam penurunan fisik yang terkait dengan penuaan, dengan penekanan pentingnya perkembangan-perkembangan baru dalam penelitian proses penuaan yang mencatat bahwa kekuatan tubuh perlahan-lahan menurun dan hilangnya fungsi kadangkala dapat diperbaiki[2]. 
Segala perubahan fisik yang biasanya diasosiasikan dengan penuaan dapat dilihat dengan jelas melalui pengamatan biasa. Kulit mereka yang sudah menua menjadi memucat dan kurang elastis; dan seiring dengan mengkerutnya lemak dan otot, kulit tersebut bisa jadi mengkerut. Pembengkakan pembuluh darah di kaki menjadi hal yang umum. Rambut di kepala menjadi putih dan menjadi semakin tipis, dan rambut tubuh menjadi jarang. Orang dewasa yang lebih tua menjadi lebih pendek seiring dengan melemahnya tulang vertebrae, dan postur bungkuk menjadikan mereka semakin kecil. Penipisan tulang dapat menyebabkan “dowager hump” pada belakang leher, terutama bagi wanita dengan osteoporosis. Selain itu, komposisi kimia tulang juga berubah, menciptakan risiko keretakan yang lebih besar[3].
2. 1. 1. 1  Otak dan Sistem Saraf
Pada lansia normal dan sehat, perubahan pada otak biasanya bersifat rendah dan hanya membuat sedikit perbedaan (Kemper, 1994). Setelah usia 30 tahun, otak kehilangan beratnya, pertama-tama sedikit, kemudian menjadi lebih cepat. Sehingga, pada usia 90 tahun, otak kehilangan 10% dari beratnya. Kehilangan berat ini dinisbahkan kepada hilangnya neuron di cebral cortex, bagian yang menangani sebagian besar tugas kognitif. Perubahan pada otak sangat bervariasi dari satu individu ke individu lain (Deary et al, 2003; Selkoe, 1991, 1992). Beberapa struktur otak, termasuk cebral cortex, menyusut lebih cepat pada pria dibandingkan wanita (Coffey et al, 1998).
Saat kita tua, kita kehilangan sejumlah neuron, unit-unit sel dasar dari sistem saraf. Beberapa peneliti memperkirakan kehilangan itu mungkin sampai 50% selama tahun-tahun dewasa, walaupun peneliti lain percaya bahwa kehilangan itu lebih sedikit dan bahwa penyelidikan yang tepat terhadap hilangnya neuron belum dibuat didalam otak manusia (bondareff, 1985). Barangkali perkiraan yang lebih masuk masuk akal adalah bahwa 5% sampai 10% dari neuron kita berhenti tumbuh sampai kita mencapai usia 70 tahun. Setelah itu hilangnya neuron menjadi lebih cepat dan banyak.
Aspek yang signifikan dari proses penuaan mungkin adalah bahwa neuron-neuron itu tidak mengganti dirinya sendiri (Moushegian, 1993). Meskipun demikian, otak dapat cepat sembuh dan memperbaiki kemampuannya, hanya kehilangan sebgaian kecil dari kemampuannya untuk berfungsi di masa dewasa akhir (Labouvie-Vief, 1985). Sifat adaptif otak telah ditunjukkan dalam sebuah penelitian (Coleman, 1986). Dari usia 40-an sampai 70-an tahun, pertumbuhan dendrit meningkat. Dendrit adalah bagian yang menerima neuron atau sel saraf. Dendrit-dendrit itu juga penting karena mereka bagian dari kira-kira 95% dari permukaan neuron. Tetapi pada orang yang sangat tua sekali, yang berusia 90-an tahun, pertumbuhan dendrit tidak lagi terjadi. Pertumbuhan dendrit dapat menggantikan kehilangan neuron, selama masih usia 70-an tahun, tetapi tidak terjadi ketika individu mencapai usia 90-an tahun.
2. 1. 1. 2  Perkembangan Sensori  
Perubahan sensori fisik pada masa dewasa akhir melibatkan indera penglihatan, indera pendengaran, indera perasa, indera pembau, dan indera peraba. Pada masa dewasa akhir, penurunan indera penglihatan, yang bagi sebagian besar dari kita dimulai pada masa awal dewasa tengah, menjadi lebih jelas (Kosnick, dkk, 1989). Mengemudi di malam hari menjadi sulit, terutama pada tingkat tertentu karena toleransi untuk cahaya yang menyilaukan telah berkurang. Adaptasi terhadap gelap menjadi lebih lambat, yang berarti bahwa orang-orang lanjut usia membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan kembali penglihatan mereka ketika keluar dari ruang-ruang yang terang menuju ruang-ruang yang agak gelap. Daerah medan visual menjadi sangat kecil, yang menunjukkan bahwa intensitas stimulus di sekeliling medan visual butuh ditingkatkan jika stimulus ingin terlihat. Peristiwa-peristiwa yang jauh dari pusat medan visual tidak dapat dideteksi (Kline & Schieber, 1985).
Banyak lansia yang kesulitan melihat warna atau melakukan aktivitas sehari-hari seperti membaca, menjahit, berbelanja, dan memasak. Kehilangan dalam sensitivitas kontras penglihatan dapat menyebabkan kesulitan dalam membaca sesuatu yang sangat halus atau cetakan yang amat tipis (Akutsu, Legge, Ross & Schuebel, 1991; Kline & Scialfa, 1996). Masalah penglihatan dapat menyebabkan kecelakaan dan kegagalan (Desai et al, 2001)[4].
Kerusakan pendengaran dapat mulai terjadi pada masa dewasa tengah, hal itu biasanya tidak menimbulkan banyak kesulitan sampai masa dewasa akhir. Saat itu, beberapa namun tidak keseluruhan dari permasalahan pendengaran mungkin diperbaiki dengan alat-alat bantu pendengaran. Hanya 19% dari orang–orang yang berusia antara 45-54 tahun mengalami berbagai jenis permasalahan pendengaran, tetapi usia 75-79 tahun, gambarannya telah mencapai 75% (Harris, 1975). Sudah dapat diperkirakan bahwa 15% dari populasi diatas usia 65 tahun sebenarnya tuli, biasanya disebabkan oleh kemunduran selaput telinga (cochlea), saraf penerima utama pendengaran didalam telinga (Olsho, Harkins & Lenhardt, 1985). Memakai 2 alat bantu pendengaran yang seimbang untuk memperbaiki setiap pasang telinga seringkali dapat membantu gangguan pendengaran pada orang-orang dewasa.
Kita tidak hanya mengalami penurunan dalam penglihatan dan pendengaran saja sebagai orang lanjut usia, tetapi kita juga menjadi kurang peka terhadap rasa dan bau. Kepekaan terhadap rasa pahit dan masam bertahan lebih lama dibandingkan dengan kepekaan terhadap rasa manis dan asin. Bagaimanapun, pada orang dewasa lanjut usia yang sehat, terjadi lebih sedikit penurunan dalam kepekaan terhadap rasa dan bau dibandingkan dengan mereka yang tidak sehat (Engen, 1977)[5]. Ketika para lansia mengeluh makanan mereka tidak terasa lezat lagi, hal tersebut bisa jadi dikarenakan mereka hanya memiliki ujung perasaan yang lebih sedikit di lidah, atau karena penerima rasa tidak bekerja dengan benar. Kehilangan sebuah kepekaan inderawi saat berusia lanjut mungkin menguntungkan. Orang-orang dewasa lanjut kurang peka terhadap rasa sakit dan kurang mengalami penderitaan jika dibandingkan dengan orang-orang dewasa muda. Tentu saja, walaupun penurunan kepekaan terhadap rasa sakit dapat membantu orang lanjut usia untuk mengatasi penyakit dan luka, hal itu dapat menjadi berbahaya jika menyembunyikan luka-luka dan penyakit yang membutuhkan perawatan.   
2. 1. 1. 3  Sistem Peredaran Darah
Tidak lama berselang ada kepercayaan bahwa keluaran dari jantung, jumlah darah yang dipompa jantung, menurun seiring dengan bertambahnya usia sekalipun pada orang dewasa yang sehat, bagaimana pun kita sekarang mengetahui bahwa ketika sakit jantung tidak muncul, jumlah darah yang dipompa sama tanpa mempertimbangkan usia orang-orang dewasa. Kenyataannya, beberapa ahli penuaan berpendapat bahwa jantung yang sehat dapat menjadi lebih kuat selama kita menua melewati masa-masa dewasa, dengan kapasitas yang meningkat, bukan menurun (fozard, 1992).
Sebelumnya, seseorang yang berusia 60 tahun dengan tekanan darah 160/90 akan diberitahu, “ Untuk usia anda, hal ini normal”. Sekarang pengobatan telah ditetapkan. Kebanyakan ahli penuaan menganjurkan bahwa tekanan darah yang konsisten pada 160/90 atau diatasnya seharusnya dirawat untuk mengurangi risiko serangan jantung, stroke, atau penyakit ginjal (Lakatta, 1992). Tekanan darah dapat meningkat sesuai usia karena penyakit, obesitas, kecemasan, pengerasan pembuluh darah, atau kurang berolahraga, semakin lama beberapa faktor ini bertahan, maka akan dapat menyebabkan semakin buruk tekanan darah individu.
2. 1. 1. 4  Sistem Pernafasan
Kapasitas paru-paru menurun antara usia 20 dan 80 tahun, sekalipun tanpa penyakit (Fozard, 1992). Paru-paru kehilangan elastisitasnya, dada menyusut, dan diafragma melemah. Meskipun begitu, berita baiknya adalah bahwa orang-orang dewasa lanjut usia dapat memperbaiki fungsi paru-paru dengan cara latihan-latihan yang dapat memperkuat diafragma.
2. 1. 1. 5  Seksualitas
Seks pada masa dewasa akhir berbeda dengan apa yang ada pada masa yang lebih muda. Pria biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk ereksi dan ejakulasi, membutuhkan stimulasi manual yang lebih banyak, dan mengalami interval antara ereksi yang lebih panjang. Disfungsi ereksi mungkin meningkat, akan tetapi kondisi tersebut dfapat diobati (Bremner, Vitiello & Prinz, 1983; NIA, 1994; refer back to chapter 15). Basahnya payudara wanita dan sinyal gairah seksual lain menjadi kurang intens dibandingkan sebelumnya. Vagina menjadi kurang fleksibel dan mungkin membutuhkan pelumas buatan.
Akan tetapi, sebagian besar lansia pria dan wanita dapat menikmati ekspresi seksual (Bortz, Wallace, & Wiley, 1999). Dalam sebuah survei kecil atas 1384 sampel nasional paruh baya dan lansia, sepertiga dari mereka yang memiliki pasangan seksual menyatakan puas dengan kehidupan seksual mereka (NFO Research, Inc., 1999)[6]. Ekspresi seksual dapat menjadi lebih memuaskan bagi lansia yang diketahui sehat dan normal pada masa muda dan tuanya. Panti jompo seharusnya mempertimbangkan kebutuhan seksual para lansia. Para dokter seharusnya menghindari obat yang mengganggu fungsi seksual dan ketika obat semacam itu merupakan keharusan, harus memperingatkan efeknya kepada pasien.
Penuaan menyebabkan beberapa perubahan dalam kemampuan seksualitas manusia, lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan. Orgasme menjadi lebih jarang pada laki-laki, terjadi dalam setiap 2 sampai 3 kali hubungan seksual bukan setiap kali berhubungan. Rangsangan yang lebih langsung biasanya dibutuhkan untuk ereksi. Didalam ketiadaan 2 keadaan penyakit dan kepercayaan bahwa orang tua adalah seharusnya aseksualitas, seksualitas dapat menjadi kekal. Sekalipun hubungan seksual terganggu oleh kelemahan, relasi lainnya harus bertahan, diantaranya kedekatan, sensualitas, dan dinilai sebagai seorang laki-laki atau perempuan. Meskipun demikian, tidak diketahui batasan usia untuk aktivitas seksual.

2. 1. 2  Fungsi Kognitif Pada Orang Dewasa Akhir
Pada usia 70 tahun, Dr. John Rock memperkenalkan pil pencegah kehamilan. Pada usia 89 tahun, Arthur Rubinstein mempertunjukkan salah satu kemampuan terbaiknya di New York. Dari usia 85 sampai 90 tahun Pablo Picasso menyelesaikan 3 lukisannya. Apakah prestasi-prestasi ini merupakan suatu pengecualian?
Isu mengenai penurunan intelektual selama tahun-tahun dewasa merupakan suatu hal yang provokatif. David Wechsler (1972), yang mengembangkan skala intelegensi Wechsler, menyimpulkan bahwa masa dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual karena adanya proses penuaan yang dialami setiap orang. Namun isu ini lebih kompleks. Horn dalam John W. Santrock menyatakan bahwa kecerdasan yang mengkristal adalah sekumpulan informasi dan kemampuan-kemampuan verbal yang dimiliki individu meningkat seiring dengan usia, sedangkan kecerdasan mengalir adalah kemampuan seseorang untuk berpikir abstrak menurun secara pasti sejak masa dewasa tengah[7].
Paul Bates dan K. Warner Schaie secara serius mempertanyakan pernyataan dari Horn (Baltes, 1987; Schaie, 1984). Mereka percaya bahwa banyak data mengenai intelegensi dan penuaan, seperti yang dikemukakan Horn mempunyai cacat karena mereka mengumpulkannya secara lintas seksional. Didalam penelitian lintas seksional menilai tingkat intelegensi dari kelompok usia 40 tahun dan usia 70 tahun dengan suatu penilaian tunggal, katakan saja pada tahun 1986, lahir dan diasuh yang berbeda, yang mengakibatkan perbedaan sosio-ekonomi dan kesempatan memperoleh pendidikan. Misalnya, individu-individu yang berusia 70 tahun, mereka mempunyai sedikit kesempatan memperoleh pendidikan yang mungkin akan mempengaruhi skor pada tes intelegensinya; sehingga, jika kita menemukan perbedaan dalam tingkat intelegensi antara individu usia 40 tahun dengan individu yang berusia 70 tahun ketika kita menilain mereka secara lintas kelompok, perbedaan itu mungkin disebabkan kesempatan memperoleh pendidikan bukan karena usia.
Sebaliknya, suatu penelitian longitudinal menilai intelegensi dari individu-individu yangs sama pada usia 40 tahun dan kpasdaemudian diulang pada usia 70 tahun. Mengingat kembali bahwa di dalam penelitian longitudinal, individu-individu yang sama diuji kembali setelah suatu periode usia tertentu. Data longitudinal yang dikumpulkan oleh Schaie (1984) dan lainnya tidak menampakkan suatu penurunan intelektual pada masa dewasa, setidaknya sampai usia 70 tahun. Di dalam penelitian terbarunya, Schaie (1994) menemukan suatu penurunan di dalam kemampuan-kemampuan mental yang dimulai rata-rata pada usia 74 tahun. Namun, besarnya penurunan berkurang secara signifikan ketika usia berubah dan kecepatan persepsi dihilangkan. Dalam berpikir mengenai bagaimana mengkaji inteligensi pada masa dewasa akhir, kita butuh mempertimbangkan kompenen-komponen apa saja yang seharusnya diteliti dan bagimana komponen itu seharusnya diukur.
Sekarang telah diterima secara luas bahwa kecepatan memproses informasi mengalami penurunan pada masa dewasa akhir. Ada juga beberapa bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang-orang dewasa lanjut kurang mampu mengeluarkan kembali yang telah disimpan dalam ingatannya (Sternberg & McGrane, 1993) dan secara efektif menggunakan imajinasi mentalnya didalam ingatan (Bales, Smith & Staudinger, in press).
Meskipun kecepatan memproses informasi kita secara pelan-pelan  menurun pada masa dewasa akhir, namun terdapat variasi individual di dalam kecakapan ini. Dan ketika penurunan itu terjadi, hal ini tidak secara jelas menunjukkan pengaruhnya terhadap kehidupan kita di dalam beberapa segi yang substansial. 
Horn dan Donaldson menganggap cukup realistis bila terdapat kemunduran intelegensi, khususnya mulai usia 50 tahun. Mereka memperingatkan adanya suatu mitos lain yang timbul yaitu bahwa orang yang menjadi tua itu tidak mengalami perubahan apapun. Terhadap pendapat tersebut,  Schale mengemukakan konklusi sebagai berikut (Schale, 1980)[8]:
1.      Perubahan intelektual dan kemunduran keterampilan dalm berbagai pengatasan masalah pada mereka yang belum mencapai akhir usia 50 tahun adalah patologis dan tidak normal.
2.      Diantara usia awal 60 dan pertengahan 70 tahun terdapat kemunduran yang normal mengenai beberapa keterampilan tertentu pada orang-orang tertentu; diatas usia 80 tahun biasanya terjadi kemunduran pada kebanyakan orang.
3.      Bagi kebanyakan orang kemunduran terjadi pada awal usia 50 tahun yaitu mengenai keterampilan yang membutuhkan kecepatan reaksi, dan keterampilan yang banyak dipengaruhi oleh saraf perifer.
4.      Kemunduran pada berbagai keterampilan juga ditemui pada orang-orang dengan penyakit jantung koroner yang serius lepas dari usia, juga pada orang-orang yang hidup dalam lingkungan sosial yang lebih rendah dan serba kekurangan.
5.      Berhubung perubahan sosio-kultural yang sangat cepat, maka orang-orang yang ada pada usia akhir 50-an atau lebih tua mengalami keadaan “penuaan” dalam arti absolescence (tidak terpakai). Dalam perbandingan dengan mereka yang lebih muda, prestasi orang yang lanjut usia lebih rendah.
6.      Bagi psikologi klinis perlu untuk membedakan antara kemunduran individual dengan kemunduran karena penuaan. Terhadap kasus yang pertama dibutuhkan intervensi penyembuhan, terhadap kasus yang kedua dibutuhkan pendidikan pemulihan atau remedient.

2. 1. 3  Perkembangan Psikososial Pada Masa Dewasa Akhir
Para pakar memandang masa dewasa akhir sebagai tahap pertumbuhan dengan isu dan tugas tertentu. Banyak dari lansia yang menilai kembali hidup mereka, menyelesaikan urusan yang belum terselesaikan, dan memutuskan cara terbaik menyalurkan energi mereka dan menghabiskan hari-hari, bulan, tahun yang tersisa dari mereka. Mereka benar-benar menyadari akan berjalannya waktu, dan sebagian dari mereka ingin meninggalkan warisan untuk anak-anak mereka atau kepada dunia, menurunkan buah dari pengalaman mereka, dan memvalidasi makna dari hidup mereka[9]. Yang lainnya igin memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk menikmati masa lalu favorit mereka atau melakukan sesuatu yang tidak pernah sempat mereka lakukan ketika masih ada yang menua.
Orang dengan sikap bermusuhan tidak cenderung melunak sejalan dengan meningkatnya usia, kecuali apabila mereka mendapatkan terapi psikoterapeutik; dan orang-orang optimis cenderung mempertahankan diri mereka yang selalu berharap (hopeful selves). Pola kualitas tertentu yang terus ada memberikan kontribusi terhadap kemampuan beradaptasi dengan penuaan dan dapat memprediksikan kesehatan dan usia (Baltes, Lindensberger & Stuadinger, 1998).
Berlawanan dengan keyakinan umum bahwa lansia cenderung tertekan, mereka tumbuh semakin berisi dan puas dengan kehidupan. Dalam sebuah studi longitudinal yang mengikuti empat generasi selama 33 tahun, emosi negatif yang bersifat self-reporting seperti kelelahan, kejenuhan, kesendirian, tidak bahagia, dan depresi menurun sejalan dengan usia (walaupun tingkat penuruna tersebut melambat setelah usia 60 tahun). Pada waktu yang sama, emotinonal positif seperti kegairahan, ketertarikan, rasa bangga, dan perasaan telah menyelesaikan tugas cenderung tetap stabil sampai akhir usia tua dan kemudian sedikit menurun secara gradual (Charles, Reynolds & Gatz, 2001).
Bagi erikson, prestasi puncak masa dewasa akhir adalah perasaan akan adanya integritas ego atau integritas diri, pencapaian yang didasarkan pada refleksi akan kehidupan seseorang. Para lansia harus dapat mengevaluasi, merangkum, dan menerima kehidupan mereka untuk semakin mendekatnya akan kematian. Orang yang sukses dalam tugas akhir bersifat integratif ini akan merasakan keteraturan dan makna kehidupan mereka dalam tatanan sosial yang lebih besar di masa lalu, sekarang, dan masa depan. “nilai moral” yang mungkin berkembang sepanjang tahap ini adalah kebijaksanaan (wisdom). Menurut erikson, kebijaksanaan artinya menerima kehidupan yang dijalani seseorang tanpa penyesalan yang besar, tanpa mengomelkan apa yang seharusnya akan dilakukan atau apa yang telah dilakukan. Hal tersebut mencakup menerima orang tua sebagai orang yang telah melakukan hal yang terbaik yang dapat mereka lakukan dan karena itu berhak mendapatkan cinta, walaupun mereka tidak sempurna. Kebijaksanaan secara tidak langsung menerima kematian seseorang sebagai akhir dari kehidupan yang sedang mereka jalankan. Ringkasnya, kebijaksanaan berarti menerima ketidaksempurnaan dalam diri, orang tua, dan hidup[10].



KESIMPULAN

Pada masa dewasa akhir merupakan priode penutup dalam rentang kehidupan seseorang. Pada priode ini seseorang telah beranjak lebih jauh dari kehidupan sebelumnya yang lebih menyenangkan atau beranjak dari masa yang penuh dengan manfaat. Ditandai dengan adanya penurunan kapasitas fisik dan psikologis. Seringkali seseorang melihat masalampaunya, umumnya dengan penuh penyesalan, dan cenderung ingin hidup pada masasekarang, mencoba mengabaikan masa depan sebisa mungkin. Karena kondisi kehidupan dan perawatan yang lebih baik, mayoritas pria dan wanita jaman sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda penuaan  mental dan fisik hingga usia 65 tahun sampai awal 70-an.
Menurut Hurlock tahap terakhir dalam rentang kehidupan, seringkali dibagi menjadi: usia lanjut dini (60-70 tahun) dan usia lanjut (70 tahun – akhir kehidupannya). Semakin lanjut usia seseorang dalam priode hidupnya dan telah kehilangan kejayaan masa mudanya. Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi penuaan dan penurunan, yang penururnanya lebih jelas dan lebih dapat diperhatikan dari pada tahap usia baya. Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia, penuaan dihubungkan dengan perubahan degenerati pada kulit, tulang jantung, pembuluh darah, paru-paru,saraf dan jaringan tubuh lainya. Dengan kemampuan regeneratife yang terbatas, merekalebih rentan terhadap berbagai penyakit, sindroma dan kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain. Penurunan ini terutama penurunan yang terjadi pada kemampuan otak, fisik, dan psikososial.




DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth B. 1980.  Psikologi Perkembangan, Jakarta. Erlangga.
Monks, Knoers, Siti. 1998 Psikologi Perkembangan, Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Papalia, Diana E. et, al. 2011. Human Development (Psikologi Perkembangan), Jakarta. The McGraw Hill Companies.

Santrock, John W. 1995 Life – Span Developmen: Perkembangan Masa Hidup, Jakarta.  Erlangga.




                                                                                                                 


[1] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, hlm. 439 (Jakarta: Erlangga, 1980)
[2] John W. S. Life – Span Developmen: Perkembangan Masa Hidup, hlm. 198 (Jakarta: Erlangga, 1995)
[3] Diana E. Papalia, et, al. Human Development (Psikologi Perkembangan), hlm. 856 (Jakarta: The McGraw Hill Companies, 2011)
[4] Diana E. Papalia, et, al. Human Development (Psikologi Perkembangan), hlm. 859 (Jakarta: The McGraw Hill Companies, 2011)
[5] John W. S. Life – Span Developmen: Perkembangan Masa Hidup, hlm. 199 (Jakarta: Erlangga, 1995)
[6] Diana E. Papalia, et, al. Human Development (Psikologi Perkembangan), hlm. 865 (Jakarta: The McGraw Hill Companies, 2011)
[7] John W. S. Life – Span Developmen: Perkembangan Masa Hidup,  hlm. 218 (Jakarta: Erlangga, 1995)
[8] F. J. Monks, A.M.P Knoers, Siti Rahayu H. Psikologi Perkembangan, hlm. 341 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998)
[9]  Diana E. Papalia, et, al. Human Development (Psikologi Perkembangan), hlm. 899 (Jakarta: The McGraw Hill Companies, 2011)

[10] Diana E. Papalia, et, al. Human Development (Psikologi Perkembangan), hlm. 902-903 (Jakarta: The McGraw Hill Companies, 2011)