BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Setiap
manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari bayi sampai
menjadi tua. Masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada
masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi
sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Lansia banyak
menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan
terintegrasi.
Lansia
atau lanjut usia adalah periode dimana manusia telah mencapai kemasakan dalam
ukuran dan fungsi. Selain itu lansia juga masa dimana seseorang akan mengalami
kemunduran dengan sejalannya waktu. Ada beberapa pendapat mengenai usia
seseorang dianggap memasuki masa lansia, yaitu ada yang menetapkan pada umur 60
tahun, 65 tahun, dan ada juga yang 70 tahun. Tetapi Badan Kesehatan Dunia (WHO)
menetapkan bahwa umur 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan seseorang telah
mengalami proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang itu telah
disebut lansia.
Secara
umum orang lanjut usia dalam meniti kehidupannya dapat dikategorikan dalam dua
macam sikap. Pertama, masa tua akan diterima dengan wajar melalui kesadaran
yang mendalam, sedangkan yang kedua, manusia usia lanjut dalam menyikapi
hidupnya cenderung menolak datangnya masa tua, kelompok ini tidak mau menerima
realitas yang ada[1].
1.2
Rumusan
Masalah
a. Bagaimana
perubahan fisik yang terjadi pada masa lansia?
b. Bagaimana
fungsi kognitif pada masa dewasa akhir (lansia)?
c. Bagaimana
perkembangan psikososial pada masa lansia?
1.3
Tujuan
a. Mengetahui
perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada masa lansia
b. Memahami
fungsi kognitif pada masa dewasa akhir (lansia)
c. Mengetahui
perkembangan yang terjadi pada psikososial pada masa lansia
BAB
II
PEMBAHASAN
2. 1 Masa Dewasa Akhir
Masa
lanjut usia merupakan priode penutup dalam rentang kehidupan seseorang. Pada
priode ini seseorang telah beranjak lebih jauh dari kehidupan sebelumnya yang
lebih menyenangkan atau beranjak dari masa yang penuh dengan manfaat. Ditandai
dengan adanya penurunan kapasitas fisik dan psikologis. Seringkali seseorang
melihat masalampaunya, umumnya dengan penuh penyesalan, dan cenderung ingin
hidup pada masasekarang, mencoba mengabaikan masa depan sebisa mungkin. Karena
kondisi kehidupan dan perawatan yang lebih baik, mayoritas pria dan wanita
jaman sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda penuaan mental dan fisik hingga usia 65 tahun sampai
awal 70-an. Karena alasan tersebut ada kecendrungan yang meningkat untuk
menggunakan usia 65 sebagai usia pensiun.
Menurut
Hurlock tahap terakhir dalam rentang kehidupan, seringkali dibagi menjadi: usia
lanjut dini (60-70 tahun) dan usia lanjut (70 tahun – akhir kehidupannya). Semakin
lanjut usia seseorang dalam priode hidupnya dan telah kehilangan kejayaan masa
mudanya. Tahap usia
lanjut adalah tahap di mana terjadi penuaan dan
penurunan, yang penururnanya lebih jelas dan
lebih dapat diperhatikan dari pada tahap usia baya. Penuaan
merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan
sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia, penuaan
dihubungkan dengan perubahan degenerati pada kulit, tulang jantung, pembuluh
darah, paru-paru,saraf dan jaringan tubuh lainya. Dengan kemampuan regeneratife
yang terbatas, merekalebih rentan terhadap berbagai penyakit, sindroma dan
kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain. Penurunan ini terutama
penurunan yang terjadi pada kemampuan otak.
Ciri-ciri
masa lanjut usia adalah sebagai berikut:
1. Usia
lanjut merupakan priode kemunduran
2. Orang
lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
3. Menua
membutuhkan perubahan peran
4. Usia
tua dinilai dengan kriteria yang berbeda
5. Penyesuaian
yang buruk pada masa lansia
6. Memiliki
berbagai stereotype
7. Keinginan
untuk kembali menjadi muda sangat kuat
2. 1. 1 Rangkaian Perubahan Fisik Pada Masa Dewasa
Akhir
Usia lanjut membawa penurunan fisik
lebih besar dibandingkan dengan priode-priode usia sebelumnya. Kita akan
mencatat rentetan perubahan-perubahan dalam penurunan fisik yang terkait dengan
penuaan, dengan penekanan pentingnya perkembangan-perkembangan baru dalam
penelitian proses penuaan yang mencatat bahwa kekuatan tubuh perlahan-lahan
menurun dan hilangnya fungsi kadangkala dapat diperbaiki[2].
Segala perubahan fisik yang biasanya
diasosiasikan dengan penuaan dapat dilihat dengan jelas melalui pengamatan
biasa. Kulit mereka yang sudah menua menjadi memucat dan kurang elastis; dan
seiring dengan mengkerutnya lemak dan otot, kulit tersebut bisa jadi mengkerut.
Pembengkakan pembuluh darah di kaki menjadi hal yang umum. Rambut di kepala
menjadi putih dan menjadi semakin tipis, dan rambut tubuh menjadi jarang. Orang
dewasa yang lebih tua menjadi lebih pendek seiring dengan melemahnya tulang vertebrae, dan postur bungkuk menjadikan
mereka semakin kecil. Penipisan tulang dapat menyebabkan “dowager hump” pada belakang leher, terutama bagi wanita dengan osteoporosis.
Selain itu, komposisi kimia tulang juga berubah, menciptakan risiko keretakan
yang lebih besar[3].
2.
1. 1. 1 Otak dan Sistem Saraf
Pada lansia normal dan sehat, perubahan
pada otak biasanya bersifat rendah dan hanya membuat sedikit perbedaan (Kemper,
1994). Setelah usia 30 tahun, otak kehilangan beratnya, pertama-tama sedikit,
kemudian menjadi lebih cepat. Sehingga, pada usia 90 tahun, otak kehilangan 10%
dari beratnya. Kehilangan berat ini dinisbahkan kepada hilangnya neuron di cebral cortex, bagian yang menangani
sebagian besar tugas kognitif. Perubahan pada otak sangat bervariasi dari satu
individu ke individu lain (Deary et al, 2003; Selkoe, 1991, 1992). Beberapa struktur
otak, termasuk cebral cortex, menyusut
lebih cepat pada pria dibandingkan wanita (Coffey et al, 1998).
Saat kita tua, kita kehilangan sejumlah
neuron, unit-unit sel dasar dari sistem saraf. Beberapa peneliti memperkirakan
kehilangan itu mungkin sampai 50% selama tahun-tahun dewasa, walaupun peneliti
lain percaya bahwa kehilangan itu lebih sedikit dan bahwa penyelidikan yang
tepat terhadap hilangnya neuron belum dibuat didalam otak manusia (bondareff,
1985). Barangkali perkiraan yang lebih masuk masuk akal adalah bahwa 5% sampai
10% dari neuron kita berhenti tumbuh sampai kita mencapai usia 70 tahun.
Setelah itu hilangnya neuron menjadi lebih cepat dan banyak.
Aspek yang signifikan dari proses
penuaan mungkin adalah bahwa neuron-neuron itu tidak mengganti dirinya sendiri
(Moushegian, 1993). Meskipun demikian, otak dapat cepat sembuh dan memperbaiki
kemampuannya, hanya kehilangan sebgaian kecil dari kemampuannya untuk berfungsi
di masa dewasa akhir (Labouvie-Vief, 1985). Sifat adaptif otak telah
ditunjukkan dalam sebuah penelitian (Coleman, 1986). Dari usia 40-an sampai
70-an tahun, pertumbuhan dendrit meningkat. Dendrit adalah bagian yang menerima
neuron atau sel saraf. Dendrit-dendrit itu juga penting karena mereka bagian
dari kira-kira 95% dari permukaan neuron. Tetapi pada orang yang sangat tua
sekali, yang berusia 90-an tahun, pertumbuhan dendrit tidak lagi terjadi.
Pertumbuhan dendrit dapat menggantikan kehilangan neuron, selama masih usia
70-an tahun, tetapi tidak terjadi ketika individu mencapai usia 90-an tahun.
2.
1. 1. 2 Perkembangan Sensori
Perubahan sensori fisik pada masa dewasa
akhir melibatkan indera penglihatan, indera pendengaran, indera perasa, indera
pembau, dan indera peraba. Pada masa dewasa akhir, penurunan indera
penglihatan, yang bagi sebagian besar dari kita dimulai pada masa awal dewasa
tengah, menjadi lebih jelas (Kosnick, dkk, 1989). Mengemudi di malam hari
menjadi sulit, terutama pada tingkat tertentu karena toleransi untuk cahaya
yang menyilaukan telah berkurang. Adaptasi terhadap gelap menjadi lebih lambat,
yang berarti bahwa orang-orang lanjut usia membutuhkan waktu yang lama untuk
memulihkan kembali penglihatan mereka ketika keluar dari ruang-ruang yang
terang menuju ruang-ruang yang agak gelap. Daerah medan visual menjadi sangat
kecil, yang menunjukkan bahwa intensitas stimulus di sekeliling medan visual
butuh ditingkatkan jika stimulus ingin terlihat. Peristiwa-peristiwa yang jauh
dari pusat medan visual tidak dapat dideteksi (Kline & Schieber, 1985).
Banyak lansia yang kesulitan melihat
warna atau melakukan aktivitas sehari-hari seperti membaca, menjahit,
berbelanja, dan memasak. Kehilangan dalam sensitivitas kontras penglihatan
dapat menyebabkan kesulitan dalam membaca sesuatu yang sangat halus atau
cetakan yang amat tipis (Akutsu, Legge, Ross & Schuebel, 1991; Kline &
Scialfa, 1996). Masalah penglihatan dapat menyebabkan kecelakaan dan kegagalan
(Desai et al, 2001)[4].
Kerusakan pendengaran dapat mulai
terjadi pada masa dewasa tengah, hal itu biasanya tidak menimbulkan banyak
kesulitan sampai masa dewasa akhir. Saat itu, beberapa namun tidak keseluruhan
dari permasalahan pendengaran mungkin diperbaiki dengan alat-alat bantu
pendengaran. Hanya 19% dari orang–orang yang berusia antara 45-54 tahun
mengalami berbagai jenis permasalahan pendengaran, tetapi usia 75-79 tahun, gambarannya
telah mencapai 75% (Harris, 1975). Sudah dapat diperkirakan bahwa 15% dari
populasi diatas usia 65 tahun sebenarnya tuli, biasanya disebabkan oleh
kemunduran selaput telinga (cochlea),
saraf penerima utama pendengaran didalam telinga (Olsho, Harkins &
Lenhardt, 1985). Memakai 2 alat bantu pendengaran yang seimbang untuk
memperbaiki setiap pasang telinga seringkali dapat membantu gangguan
pendengaran pada orang-orang dewasa.
Kita tidak hanya mengalami penurunan
dalam penglihatan dan pendengaran saja sebagai orang lanjut usia, tetapi kita
juga menjadi kurang peka terhadap rasa dan bau. Kepekaan terhadap rasa pahit
dan masam bertahan lebih lama dibandingkan dengan kepekaan terhadap rasa manis
dan asin. Bagaimanapun, pada orang dewasa lanjut usia yang sehat, terjadi lebih
sedikit penurunan dalam kepekaan terhadap rasa dan bau dibandingkan dengan
mereka yang tidak sehat (Engen, 1977)[5]. Ketika
para lansia mengeluh makanan mereka tidak terasa lezat lagi, hal tersebut bisa
jadi dikarenakan mereka hanya memiliki ujung perasaan yang lebih sedikit di
lidah, atau karena penerima rasa tidak bekerja dengan benar. Kehilangan sebuah
kepekaan inderawi saat berusia lanjut mungkin menguntungkan. Orang-orang dewasa
lanjut kurang peka terhadap rasa sakit dan kurang mengalami penderitaan jika
dibandingkan dengan orang-orang dewasa muda. Tentu saja, walaupun penurunan
kepekaan terhadap rasa sakit dapat membantu orang lanjut usia untuk mengatasi
penyakit dan luka, hal itu dapat menjadi berbahaya jika menyembunyikan
luka-luka dan penyakit yang membutuhkan perawatan.
2.
1. 1. 3 Sistem Peredaran Darah
Tidak lama berselang ada kepercayaan
bahwa keluaran dari jantung, jumlah darah yang dipompa jantung, menurun seiring
dengan bertambahnya usia sekalipun pada orang dewasa yang sehat, bagaimana pun
kita sekarang mengetahui bahwa ketika sakit jantung tidak muncul, jumlah darah
yang dipompa sama tanpa mempertimbangkan usia orang-orang dewasa. Kenyataannya,
beberapa ahli penuaan berpendapat bahwa jantung yang sehat dapat menjadi lebih
kuat selama kita menua melewati masa-masa dewasa, dengan kapasitas yang
meningkat, bukan menurun (fozard, 1992).
Sebelumnya, seseorang yang berusia 60
tahun dengan tekanan darah 160/90 akan diberitahu, “ Untuk usia anda, hal ini
normal”. Sekarang pengobatan telah ditetapkan. Kebanyakan ahli penuaan
menganjurkan bahwa tekanan darah yang konsisten pada 160/90 atau diatasnya seharusnya
dirawat untuk mengurangi risiko serangan jantung, stroke, atau penyakit ginjal
(Lakatta, 1992). Tekanan darah dapat meningkat sesuai usia karena penyakit,
obesitas, kecemasan, pengerasan pembuluh darah, atau kurang berolahraga,
semakin lama beberapa faktor ini bertahan, maka akan dapat menyebabkan semakin
buruk tekanan darah individu.
2.
1. 1. 4 Sistem Pernafasan
Kapasitas paru-paru menurun antara usia
20 dan 80 tahun, sekalipun tanpa penyakit (Fozard, 1992). Paru-paru kehilangan
elastisitasnya, dada menyusut, dan diafragma melemah. Meskipun begitu, berita
baiknya adalah bahwa orang-orang dewasa lanjut usia dapat memperbaiki fungsi
paru-paru dengan cara latihan-latihan yang dapat memperkuat diafragma.
2.
1. 1. 5 Seksualitas
Seks pada masa dewasa akhir berbeda
dengan apa yang ada pada masa yang lebih muda. Pria biasanya membutuhkan waktu
lebih lama untuk ereksi dan ejakulasi, membutuhkan stimulasi manual yang lebih
banyak, dan mengalami interval antara ereksi yang lebih panjang. Disfungsi
ereksi mungkin meningkat, akan tetapi kondisi tersebut dfapat diobati (Bremner,
Vitiello & Prinz, 1983; NIA, 1994; refer
back to chapter 15). Basahnya payudara wanita dan sinyal gairah seksual
lain menjadi kurang intens dibandingkan sebelumnya. Vagina menjadi kurang
fleksibel dan mungkin membutuhkan pelumas buatan.
Akan tetapi, sebagian besar lansia pria
dan wanita dapat menikmati ekspresi seksual (Bortz, Wallace, & Wiley, 1999).
Dalam sebuah survei kecil atas 1384 sampel nasional paruh baya dan lansia,
sepertiga dari mereka yang memiliki pasangan seksual menyatakan puas dengan
kehidupan seksual mereka (NFO Research, Inc., 1999)[6].
Ekspresi seksual dapat menjadi lebih memuaskan bagi lansia yang diketahui sehat
dan normal pada masa muda dan tuanya. Panti jompo seharusnya mempertimbangkan
kebutuhan seksual para lansia. Para dokter seharusnya menghindari obat yang
mengganggu fungsi seksual dan ketika obat semacam itu merupakan keharusan,
harus memperingatkan efeknya kepada pasien.
Penuaan menyebabkan beberapa perubahan
dalam kemampuan seksualitas manusia, lebih banyak pada laki-laki daripada
perempuan. Orgasme menjadi lebih jarang pada laki-laki, terjadi dalam setiap 2
sampai 3 kali hubungan seksual bukan setiap kali berhubungan. Rangsangan yang
lebih langsung biasanya dibutuhkan untuk ereksi. Didalam ketiadaan 2 keadaan
penyakit dan kepercayaan bahwa orang tua adalah seharusnya aseksualitas,
seksualitas dapat menjadi kekal. Sekalipun hubungan seksual terganggu oleh
kelemahan, relasi lainnya harus bertahan, diantaranya kedekatan, sensualitas,
dan dinilai sebagai seorang laki-laki atau perempuan. Meskipun demikian, tidak
diketahui batasan usia untuk aktivitas seksual.
2. 1. 2 Fungsi Kognitif Pada Orang Dewasa Akhir
Pada usia 70 tahun, Dr. John Rock
memperkenalkan pil pencegah kehamilan. Pada usia 89 tahun, Arthur Rubinstein
mempertunjukkan salah satu kemampuan terbaiknya di New York. Dari usia 85 sampai 90 tahun Pablo Picasso menyelesaikan
3 lukisannya. Apakah prestasi-prestasi ini merupakan suatu pengecualian?
Isu mengenai penurunan intelektual
selama tahun-tahun dewasa merupakan suatu hal yang provokatif. David Wechsler
(1972), yang mengembangkan skala intelegensi Wechsler, menyimpulkan bahwa masa
dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual karena adanya proses penuaan yang
dialami setiap orang. Namun isu ini lebih kompleks. Horn dalam John W. Santrock
menyatakan bahwa kecerdasan yang mengkristal adalah sekumpulan informasi dan
kemampuan-kemampuan verbal yang dimiliki individu meningkat seiring dengan
usia, sedangkan kecerdasan mengalir adalah kemampuan seseorang untuk berpikir
abstrak menurun secara pasti sejak masa dewasa tengah[7].
Paul Bates dan K. Warner Schaie secara
serius mempertanyakan pernyataan dari Horn (Baltes, 1987; Schaie, 1984). Mereka
percaya bahwa banyak data mengenai intelegensi dan penuaan, seperti yang
dikemukakan Horn mempunyai cacat karena mereka mengumpulkannya secara lintas
seksional. Didalam penelitian lintas seksional menilai tingkat intelegensi dari
kelompok usia 40 tahun dan usia 70 tahun dengan suatu penilaian tunggal,
katakan saja pada tahun 1986, lahir dan diasuh yang berbeda, yang mengakibatkan
perbedaan sosio-ekonomi dan kesempatan memperoleh pendidikan. Misalnya,
individu-individu yang berusia 70 tahun, mereka mempunyai sedikit kesempatan
memperoleh pendidikan yang mungkin akan mempengaruhi skor pada tes
intelegensinya; sehingga, jika kita menemukan perbedaan dalam tingkat
intelegensi antara individu usia 40 tahun dengan individu yang berusia 70 tahun
ketika kita menilain mereka secara lintas kelompok, perbedaan itu mungkin
disebabkan kesempatan memperoleh pendidikan bukan karena usia.
Sebaliknya, suatu penelitian
longitudinal menilai intelegensi dari individu-individu yangs sama pada usia 40
tahun dan kpasdaemudian diulang pada usia 70 tahun. Mengingat kembali bahwa di
dalam penelitian longitudinal, individu-individu yang sama diuji kembali
setelah suatu periode usia tertentu. Data longitudinal yang dikumpulkan oleh
Schaie (1984) dan lainnya tidak menampakkan suatu penurunan intelektual pada
masa dewasa, setidaknya sampai usia 70 tahun. Di dalam penelitian terbarunya,
Schaie (1994) menemukan suatu penurunan di dalam kemampuan-kemampuan mental
yang dimulai rata-rata pada usia 74 tahun. Namun, besarnya penurunan berkurang
secara signifikan ketika usia berubah dan kecepatan persepsi dihilangkan. Dalam
berpikir mengenai bagaimana mengkaji inteligensi pada masa dewasa akhir, kita
butuh mempertimbangkan kompenen-komponen apa saja yang seharusnya diteliti dan
bagimana komponen itu seharusnya diukur.
Sekarang telah diterima secara luas
bahwa kecepatan memproses informasi mengalami penurunan pada masa dewasa akhir.
Ada juga beberapa bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang-orang dewasa lanjut
kurang mampu mengeluarkan kembali yang telah disimpan dalam ingatannya
(Sternberg & McGrane, 1993) dan secara efektif menggunakan imajinasi
mentalnya didalam ingatan (Bales, Smith & Staudinger, in press).
Meskipun kecepatan memproses informasi
kita secara pelan-pelan menurun pada
masa dewasa akhir, namun terdapat variasi individual di dalam kecakapan ini.
Dan ketika penurunan itu terjadi, hal ini tidak secara jelas menunjukkan pengaruhnya
terhadap kehidupan kita di dalam beberapa segi yang substansial.
Horn dan Donaldson menganggap cukup
realistis bila terdapat kemunduran intelegensi, khususnya mulai usia 50 tahun.
Mereka memperingatkan adanya suatu mitos lain yang timbul yaitu bahwa orang
yang menjadi tua itu tidak mengalami perubahan apapun. Terhadap pendapat
tersebut, Schale mengemukakan konklusi
sebagai berikut (Schale, 1980)[8]:
1. Perubahan
intelektual dan kemunduran keterampilan dalm berbagai pengatasan masalah pada
mereka yang belum mencapai akhir usia 50 tahun adalah patologis dan tidak
normal.
2. Diantara
usia awal 60 dan pertengahan 70 tahun terdapat kemunduran yang normal mengenai
beberapa keterampilan tertentu pada orang-orang tertentu; diatas usia 80 tahun
biasanya terjadi kemunduran pada kebanyakan orang.
3. Bagi
kebanyakan orang kemunduran terjadi pada awal usia 50 tahun yaitu mengenai
keterampilan yang membutuhkan kecepatan reaksi, dan keterampilan yang banyak
dipengaruhi oleh saraf perifer.
4. Kemunduran
pada berbagai keterampilan juga ditemui pada orang-orang dengan penyakit
jantung koroner yang serius lepas dari usia, juga pada orang-orang yang hidup
dalam lingkungan sosial yang lebih rendah dan serba kekurangan.
5. Berhubung
perubahan sosio-kultural yang sangat cepat, maka orang-orang yang ada pada usia
akhir 50-an atau lebih tua mengalami keadaan “penuaan” dalam arti absolescence (tidak terpakai). Dalam
perbandingan dengan mereka yang lebih muda, prestasi orang yang lanjut usia
lebih rendah.
6. Bagi
psikologi klinis perlu untuk membedakan antara kemunduran individual dengan
kemunduran karena penuaan. Terhadap kasus yang pertama dibutuhkan intervensi
penyembuhan, terhadap kasus yang kedua dibutuhkan pendidikan pemulihan atau remedient.
2. 1. 3 Perkembangan Psikososial Pada Masa Dewasa
Akhir
Para
pakar memandang masa dewasa akhir sebagai tahap pertumbuhan dengan isu dan
tugas tertentu. Banyak dari lansia yang menilai kembali hidup mereka,
menyelesaikan urusan yang belum terselesaikan, dan memutuskan cara terbaik
menyalurkan energi mereka dan menghabiskan hari-hari, bulan, tahun yang tersisa
dari mereka. Mereka benar-benar menyadari akan berjalannya waktu, dan sebagian
dari mereka ingin meninggalkan warisan untuk anak-anak mereka atau kepada
dunia, menurunkan buah dari pengalaman mereka, dan memvalidasi makna dari hidup
mereka[9].
Yang lainnya igin memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk menikmati masa
lalu favorit mereka atau melakukan sesuatu yang tidak pernah sempat mereka
lakukan ketika masih ada yang menua.
Orang
dengan sikap bermusuhan tidak cenderung melunak sejalan dengan meningkatnya
usia, kecuali apabila mereka mendapatkan terapi psikoterapeutik; dan
orang-orang optimis cenderung mempertahankan diri mereka yang selalu berharap (hopeful selves). Pola kualitas tertentu
yang terus ada memberikan kontribusi terhadap kemampuan beradaptasi dengan
penuaan dan dapat memprediksikan kesehatan dan usia (Baltes, Lindensberger
& Stuadinger, 1998).
Berlawanan
dengan keyakinan umum bahwa lansia cenderung tertekan, mereka tumbuh semakin
berisi dan puas dengan kehidupan. Dalam sebuah studi longitudinal yang
mengikuti empat generasi selama 33 tahun, emosi negatif yang bersifat self-reporting seperti kelelahan,
kejenuhan, kesendirian, tidak bahagia, dan depresi menurun sejalan dengan usia
(walaupun tingkat penuruna tersebut melambat setelah usia 60 tahun). Pada waktu
yang sama, emotinonal positif seperti
kegairahan, ketertarikan, rasa bangga, dan perasaan telah menyelesaikan tugas
cenderung tetap stabil sampai akhir usia tua dan kemudian sedikit menurun
secara gradual (Charles, Reynolds & Gatz, 2001).
Bagi
erikson, prestasi puncak masa dewasa akhir adalah perasaan akan adanya
integritas ego atau integritas diri, pencapaian yang didasarkan pada refleksi
akan kehidupan seseorang. Para lansia harus dapat mengevaluasi, merangkum, dan
menerima kehidupan mereka untuk semakin mendekatnya akan kematian. Orang yang
sukses dalam tugas akhir bersifat integratif ini akan merasakan keteraturan dan
makna kehidupan mereka dalam tatanan sosial yang lebih besar di masa lalu,
sekarang, dan masa depan. “nilai moral” yang mungkin berkembang sepanjang tahap
ini adalah kebijaksanaan (wisdom). Menurut erikson, kebijaksanaan artinya
menerima kehidupan yang dijalani seseorang tanpa penyesalan yang besar, tanpa
mengomelkan apa yang seharusnya akan dilakukan atau apa yang telah dilakukan.
Hal tersebut mencakup menerima orang tua sebagai orang yang telah melakukan hal
yang terbaik yang dapat mereka lakukan dan karena itu berhak mendapatkan cinta,
walaupun mereka tidak sempurna. Kebijaksanaan secara tidak langsung menerima
kematian seseorang sebagai akhir dari kehidupan yang sedang mereka jalankan.
Ringkasnya, kebijaksanaan berarti menerima ketidaksempurnaan dalam diri, orang
tua, dan hidup[10].
KESIMPULAN
Pada
masa dewasa akhir merupakan priode penutup dalam rentang kehidupan seseorang.
Pada priode ini seseorang telah beranjak lebih jauh dari kehidupan sebelumnya
yang lebih menyenangkan atau beranjak dari masa yang penuh dengan manfaat.
Ditandai dengan adanya penurunan kapasitas fisik dan psikologis. Seringkali
seseorang melihat masalampaunya, umumnya dengan penuh penyesalan, dan cenderung
ingin hidup pada masasekarang, mencoba mengabaikan masa depan sebisa mungkin.
Karena kondisi kehidupan dan perawatan yang lebih baik, mayoritas pria dan
wanita jaman sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda penuaan mental dan fisik hingga usia 65 tahun sampai
awal 70-an.
Menurut
Hurlock tahap terakhir dalam rentang kehidupan, seringkali dibagi menjadi: usia
lanjut dini (60-70 tahun) dan usia lanjut (70 tahun – akhir kehidupannya).
Semakin lanjut usia seseorang dalam priode hidupnya dan telah kehilangan
kejayaan masa mudanya. Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi penuaan dan
penurunan, yang penururnanya lebih jelas dan
lebih dapat diperhatikan dari pada tahap usia baya. Penuaan
merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan
sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia, penuaan
dihubungkan dengan perubahan degenerati pada kulit, tulang jantung, pembuluh
darah, paru-paru,saraf dan jaringan tubuh lainya. Dengan kemampuan regeneratife
yang terbatas, merekalebih rentan terhadap berbagai penyakit, sindroma dan
kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain. Penurunan ini terutama
penurunan yang terjadi pada kemampuan otak, fisik, dan psikososial.
DAFTAR
PUSTAKA
Hurlock,
Elizabeth B. 1980. Psikologi
Perkembangan, Jakarta. Erlangga.
Monks, Knoers, Siti. 1998 Psikologi Perkembangan, Yogyakarta.
Gadjah Mada University Press.
Papalia, Diana E. et, al. 2011. Human Development (Psikologi Perkembangan),
Jakarta. The McGraw Hill Companies.
Santrock, John W. 1995 Life – Span Developmen: Perkembangan Masa
Hidup, Jakarta. Erlangga.
[1] Elizabeth
B. Hurlock, Psikologi Perkembangan,
hlm. 439 (Jakarta: Erlangga, 1980)
[2] John W.
S. Life – Span Developmen: Perkembangan
Masa Hidup, hlm. 198 (Jakarta: Erlangga, 1995)
[3] Diana E.
Papalia, et, al. Human Development
(Psikologi Perkembangan), hlm. 856 (Jakarta: The McGraw Hill Companies,
2011)
[4] Diana E.
Papalia, et, al. Human Development (Psikologi
Perkembangan), hlm. 859 (Jakarta: The McGraw Hill Companies, 2011)
[5] John W.
S. Life – Span Developmen: Perkembangan
Masa Hidup, hlm. 199 (Jakarta: Erlangga, 1995)
[6] Diana E.
Papalia, et, al. Human Development
(Psikologi Perkembangan), hlm. 865 (Jakarta: The McGraw Hill Companies,
2011)
[7] John W.
S. Life – Span Developmen: Perkembangan
Masa Hidup, hlm. 218 (Jakarta:
Erlangga, 1995)
[8] F. J.
Monks, A.M.P Knoers, Siti Rahayu H. Psikologi
Perkembangan, hlm. 341 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998)
[9] Diana E. Papalia, et, al. Human Development (Psikologi Perkembangan),
hlm. 899 (Jakarta: The McGraw Hill Companies, 2011)
[10] Diana
E. Papalia, et, al. Human Development
(Psikologi Perkembangan), hlm. 902-903 (Jakarta: The McGraw Hill Companies,
2011)
Very nice..
BalasHapusTerima kasih ya,postingan kamu sangat membantu :)
BalasHapusSangat bermanfaat, terimah kasih
BalasHapusSangat membntu,terimah kasih
BalasHapusterimakasih infonya :)
BalasHapusBagus sekali
BalasHapusMantap oke, thanks
BalasHapusWoww...sangat lengkap yaaa penjelasan tentang masa dewasa akhir ini
BalasHapusAtas blog anda,saya lebih paham tentang masalah dewasa akhir
BalasHapusSangat membantu sekali makalahnya
BalasHapusMantap thank u, next
BalasHapusMantap
BalasHapusSangat membantu, terimakasih 😊
BalasHapusGreat job! Lanjutin yak, ditunggu
BalasHapus